Lembaga

Oleh ;

Idham Malik
( akuakultur 2004 )

Bulan April lalu, konstalasi politik di lembaga mahasiswa perikanan kembali bergejolak. Hal ini dipicu oleh mundurnya wakil presiden BEM, isu ini kemudian membuat kapal kepengurusan Presiden BEM oleng. Celah itu dimanfaatkan oknum-oknum tertentu untuk melakukan gerakan agitasi bawah tanah. Lewat aksi tanda tangan, kampanye oral, serta informasi-informasi mengejutkan di baliho-baliho, mereka berniat melengserkan presiden BEM.
Gonjang-ganjing sidang istimewa pun bergulir, mahasiswa yang sebelumnya tak tahu-menahu mulai banyak memperbincangkannya. Berbagai kalangan pun berspekulasi, menganalisis peyebab, menawarkan solusi, atau sekadar menghujat tanpa tahu akar persoalan masalah. Presiden yang sebelumnya mendapat simpati warganya, kini ia nampak terasing lantaran beberapa mahasiswa menghujatnya, seakan menjadikannya kambing hitam dari segala masalah yang ada di lembaga.
Dari kasus ini ada kecendrungan bahwa lembaga adalah sepenuhnya milik pengurus, warga yang berada di luar struktur merasa tidak punya andil besar dalam membangun lembaga. Indikasi ini nampak saat kegiatan kelembagaan berlangsung, warga termasuk yang oposisi kadang tidak menaruh perhatian terhadap aktivitas lembaga, namun ketika terjadi kesalahan fatal, mereka beramai-ramai menghakimi pengurus atas segala kesalahannya itu. Perlu diketahui bahwa warga, pengurus serta pihak-pihak yang terkait harus saling mendukung untuk kemajuan lembaga. Warga setidaknya harus terus memberikan dukungan, baik itu kritik serta jalinan komunikasi. Tanpa adanya jalinan komunikasi, bagian-bagian itu akan merasa terasing sehingga tak dapat memahami fenomena yang menimpanya.
Untuk itu perlu dipertegas kembali apa sih fungsi lembaga itu? Lembaga adalah suatu tatanan. Selain untuk mewujudkan visinya yang spesifik, juga sebagai media yang menjamin eksistensi para pengurusnya. Setidaknya lembaga berperan dalam mendorong dan memfasilitasi para anggotanya untuk meningkatkan kualitas kemandirian untuk mengartikulasikan kepentingan masing-masing. Dengan pertimbangan mereka tidak melupakan tanggung jawabnya, yaitu menjalankan program serta melayani warga. Pada satu sisi menonjolkan kemandirian dalam melaksanakan aktivitas internalnya, pada sisi lain menjaga keberlangsungan organisasinya.
pengurus merasa membangun organisasinya bersama-sama dengan jalinan komunikasi yang erat, sehingga merasa membangun diri mereka sendiri. Pemimpin pun mesti mengetahui tingkat keberagaman pengurus dengan memanfaatkan semua potensi yang dimiliki para anggotanya. Dengan anggapan bahwa tiap orang punya kelebihan dan kekurangan, dengan demikian akan tercipta sinergitas, saling hubungan untuk mencipta sistem yang holistik. Organisasi mesti memelihara keunikan-keunikan tiap elemennya melalui pemberian otonomi seluas-luasnya. Variasi pada nantinya akan memberikan energi alternatif dalam menjamin keberlangsungan lembaga.
Untuk fenomena di perikanan ini ada baiknya kita sebagai bagian yang terkait senantiasa menghormati kerja keras pengurus selama beberapa bulan ini. Setidaknya menghargai jasa-jasanya dalam membangun lembaga lewat beberapa program kerja yang sempat terlaksana. Kita tidak mesti serta merta melengserkan, tapi masih ada jalan lain yang lebih arif, misalnya memberi mereka kesempatan untuk berubah dan berbuat lebih. Jikalau itu sudah jadi bubur, kawan-kawan mahasiswa jangan sekadar berkoar-koar saja mengkritik kinerja pengurus, tapi kawan-kawan juga ikut terlibat aktif demi keberlangsungan lembaga. Untuk itu, untuk kejayaan lembaga, kita dituntut untuk bersatu, tidak saling menyalahkan dan berupaya untuk selalu mencari solusi yang terbaik.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Daftar Istilah-Istilah Perikanan

Faktor Pembatas dan Lingkungan Fisik

Energi dalam Ekologi