Apatisme Menjangkiti Himpunan BDP


Rabu kemarin (3/08), saya sengaja berkunjung ke habitat asli saya, jurusan perikanan. Sekadar ingin memenuhi undangan bertemu dengan seseorang yang sudah lama tak jumpa. Sembari menunggu, saya duduk-duduk santai di kursi pelataran sambil mengajak mahasiswa yang juga duduk di situ berbincang-bincang apa saja. Saya betah berlama-lama karena mendapat teman bicara yang asyik, Ikbal, seorang kawan seperjuangan saat berkunjung ke pulau Jawa-Bali setahun lalu. Ia menceritakan pengalamannya bersama masyarakat di lokasi KKN, Kabupaten Sidrap. Humoris, interesting. Memang sih, mendengar suka duka manusia tak membuat kita bosan, karena kita juga adalah manusia yang bisa jadi punya pengalaman yang hampir sama.



Asyik berbincang, rasa hilang dan kosong yang timbul akibat batalnya pertemuan dengan seorang kawan itu sedikit terlupakan. Kawan yang bisa dibilang spesial itu berhalangan hadir hari itu karena mengaku banyak hal yang mesti ia kerja. Tak apalah, ada hikmah di baliknya, bersabar saja. Ikbal yang sepertinya punya urusan penting lain, minta mohon diri. Oke kataku. Tak lama kemudian datang Accung, ia pun menawarkan diri untuk berbincang. Ya.. tak jauh-jauh soal kronik yang melibatkan dirinya, yaitu pencurian motor temannya oleh seorang mahasiswa pertanian sehari sebelumnya. Bahan yang lain, tak lain dari aktivitas keseharian saya, dunia pers dan kewartwanan.
Di tengah perbincangan, dengan spontan saya menyerempet pertanyaan lain, “bagaimana mi himpunan, kenapa programnya tidak jalan”. Sontak air muka adik angkatan saya yang kebetulan terpilih menjadi ketua Himpunan Mahasiswa Budidaya ini berubah. Ia tak memberikan jawaban yang memuaskan, ya biasalah terkendala sumberdaya, waktu dan kuliah. Terdengar klasik memang. Apakah itu sebuah jawaban? Saya pikir itu bukan jawaban yang tepat.
Iseng, dalam hati saya berkata, “bilang saja kamu tak bisa mengordinir dan kurang komitmen terhadap lembaga”. Sederhana saja, seorang pemimpin baiknya tidak lari dari persoalan. Ia harus terus berupaya memanfaatkan sumberdaya yang menganggur tanpa bergantung pada satu dua orang. Banyak kok sumberdayanya, bisa dihitung sendiri jumlah mahasiswa BDP berapa, apa yang ia kerja. Dalam batin ada pikiran bahwa mereka sebenarnya punya keinginan untuk bersumbangsih, tapi tak mendapatkan arahan atau bimbingan. Di sinilah inti tugas seorang pemimpin.
Krusial lho, pikir saja, ini menyangkut persoalan generasi dan masa depan perikanan dan bangsa (che..ilee). Kalau hari ini tak beres, bagaimana ke depannya. Bisa saja terjadi patahan sejarah dan lost generation. Nantinya tak ada lagi yang mau berkecimpung di dunia lembaga himpunan, lantaran mereka tak merasakan manfaat berkumpul dan berorganisasi di himpunan. Jadinya, setiap orang hanya memikirkan pribadinya masing-masing, mengejar target pribadi tanpa berbuat jauh untuk kepentingan khalayak banyak. Dengan begitu, hilanglah kreativitas dan inovasi yang selalu hadir dalam kebersamaan. Watak yang kemudian timbul adalah watak kompetisi, kita seakan-akan selalu diperhadap-hadapkan. katanya menuju the winner (kemenangan semu). Kita pun kembali ke hukum rimba, siapa yang kuat dia yang yang menang.
Memang sih, hal itu tidak bisa dinafikan, tapi ada sisi lain yang perlu kita perkuat dengan organisasi. Pengalaman saja, organisasi dapat mengasah kepekaan bersama, menjalani hidup secara harmonis dan senantiasa mendahulukan kerjasama dibanding kompetisi. Itulah inti kehidupan, yaitu bahu-membahu menuju kesejahteraan hidup bersama, bukan saling menikam dari belakang.
Tampaknya, yang terlupakan itu adalah generasi kita. Mungkin, kita sudah mencicipinya sedikit, merasai nikmat pahitnya. Tapi bagaimana dengan adik-adik baru kita, angkatan di bawah kita. Tentunya menjadi tanggungjawab kita untuk membuatnya baik, bahkan harus lebih baik dari kita.
Sepertinya, mereka tak diberi kesempatan untuk mencicipi nikmatnya himpunan. Bisa diandaikan bahwa himpunan itu seperti masakan. Masakan yang enak adalah masakan yang telah diberi garam, beragam bumbu. Dalam himpunan itu banyak bumbu, beragam rasa, sehingga melatih kepekaan kita untuk berhubungan dengan orang lain. Ada kenikmatan tersendiri jika tujuan organisasi tercapai dengan usaha bersama yang berbarengan dengan terpenuhinya keinginan masing-masing anggota. Ya.. mau buat apa, sepertinya kawan-kawan, kita melihat himpunan sebagai masakan yang hambar.
Lagi-lagi ini adalah persoalan tanggungjawab bung. Apa gunanya seorang manusia hidup kalau tak mampu mengemban tanggungjawab. Cendrung menyusahkan orang lain. Kawan, himpunan itu layaknya sebuah miniatur kehidupan. Tempat belajar. Jangan-jangan, kalau tak beres di himpunan bisa lebih tak beres lagi di kehidupan nyata. Jangan sepelekan hal ini karena ini dapat menjadi indikator, mencerminkan prilaku masa depan.
Tak dapat dipungkiri bahwa iklim akademik saat ini memang sedikit memberi ruang terhadap tumbuhnya lembaga himpunan. Tapi, itu bukan menjadi alasan. Bukannya kita dikaruniai akal untuk berfikir demi mencari jalan keluar. Toh banyak hal yang bisa dilakukan, kegiatan diskusi rutin lah, bedah buku, melanjutkan Training Dasar Generasi Akuakultur (TRIDAGNA), kajian ilmiah, Pelatihan Karya Ilmiah pameran ikan hias, dan banyak lagi. Pasti, pengurus lebih tahu hal ini.
Waktu terus saja berlalu, melibas kita-kita yang lemah. Tak apa-apa kan penulis sedikit berpesan. Jangan sia-siakan waktu ya, berbuatlah sebisamu, perbaiki komitmennya lagi.
Maaf ya.. bukannya menggurui, tapi sekadar prihatin.. Dan saya yakin, pikiran teman-teman pengurus lebih cerdas dari penulis ini.

Idham Malik


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Daftar Istilah-Istilah Perikanan

Faktor Pembatas dan Lingkungan Fisik

Energi dalam Ekologi