Pengaruh Salinitas Terhadap Perkembangan Copepoda


Copepoda adalah kelompok zooplankton yang memegang peranan penting dalam rantai makanan pada suatu ekosistem perairan. Dalam industri pembenihan ikan laut dewasa ini, copepoda mulai banyak dimanfaatkan sebagai pakan alami untuk larva ikan. Copepoda cocok sebagai pakan larva ikan karena selain mempunyai nilai nutrisi yang tinggi juga karena ukuran tubuh yang bervariasi sehingga sesuai tingkat perkembangan larva ikan. Hasil-hasil penelitian menunjukkan bahwa copepoda dapat meningkatkan pertumbuhan larva ikan laut yang lebih cepat dibandingkan rotifer dan Artemia (Lavens dan Sorgelos, 1996).

Copepoda kaya akan protein, lemak, asam amino esensial yang dapat mempercepat pertumbuhan, meningkatkan daya tahan tubuh serta mencerahkan warna pada udang dan ikan. Keunggulan copepoda juga telah diakui oleh beberapa peneliti lain, karena kandungan DHA-nya yang tinggi, dapat menyokong perkembangan mata dan meningkatkan derajat kelulushidupan larva. Copepoda juga mempunyai kandungan lemak polar yang lebih tinggi dibandingkan dengan Artemia sehingga dapat menghasilkan pigmentasi yang lebih baik bagi larva ikan (Mcevoy dkk., 1998 dalam Umar, 2002).
Beberapa jenis copepoda telah dikembangkan untuk dibudidayakan khususnya di manca negara. Copepoda tersebut termasuk kelompok harpacticoid dan calanoid.
Perairan Indonesia kaya akan kehadiran berbagai jenis copepoda, memiliki peluang besar untuk memilih jenis pakan hidup yang unggul sebagai pakan alternatif atau pengganti Artemia yang saat ini harganya kian melambung.
Menurut Sutomo (2003), copepoda laut jenis Tigriopus brevicornis, dapat hidup pada kisaran salinitas yang cukup luas yakni mulai dari 10 sampai 40 ppt, namun pada salinitas 10 ppt tidak didapatkan copepoda yang bertelur. Hasil penelitian lain menyatakan bahwa copepoda dapat dikultur di air laut dengan salinitas 25-30 ppt (Lavens dan Sorgeloos, 1996). Menurut Anindiastuti dkk. (2002), untuk mengkultur copepoda pada skala laboratorium sebaiknya menggunakan air laut yang steril bersalinitas 25 ppt. Sementara itu copepoda di perairan umum dapat hidup pada salinitas antara 26,50 dan 35,67 ppt (Levinton, 1982 dalam Umar, 2002). Dengan demikian, salinitas yang optimum untuk perkembangan copepoda laut belum diketahui secara pasti.
Salinitas merupakan konsentrasi total dari semua ion yang larut dalam air, dan dinyatakan dalam bagian perseribu (ppt) yang setara dengan gram per liter (Boyd, 1990 dalam Faidar, 2005). Menurut Hutabarat dan Evans (1984), salinitas merupakan konsentrasi rata-rata seluruh garam yang terdapat di dalam air laut. Salinitas diduga berpengaruh terhadap perkembangan copepoda, makanya perlu dilakukan penelitian tentang hal tersebut.
Tujuan dan Kegunaan
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh salinitas terhadap perkembangan copepoda.
Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi salah satu informasi dasar tentang pengaruh salinitas bagi pemeliharaan copepoda dalam rangka menunjang pembenihan.

II. TINJAUAN PUSTAKA
Klasifikasi dan Ciri Morfologi
Secara taksonomi copepoda termasuk ke dalam klasifikasi sebagai berikut:
Kingdom : Animalia
Filum : Arthtropoda
Subfilum : Crustacea
Kelas : Maxillopoda
Subkelas : Copepoda
Superordo : Gymnoplea (Giesbrecht 1882)
Ordo : Calanoida (Sars 1903)
Sumber : http://www.uni-oldenburg.de/monoculus
Copepoda merupakan krustacea yang sangat banyak dijumpai diantara fitoplankton dan pada tingkat tropik yang tinggi pada ekosisitem. Copepoda dewasa berukuran antara 1 dan 5 mm. Tubuh copepoda berbentuk silindrikonikal, dimana anterior lebih lebar. Bagian depan meliputi 2 bagian yakni cephalotoraks (kepala dengan toraks dan segmen toraks ke enam) dan abdomen yang lebih kecil dibandingkan cephalotoraks. Pada bagian kepala memiliki mata di bagian tengah dan antenna yang pada umumnya sangat panjang. Copepoda yang bersifat planktonik pada umumnya suspension feeders (Lavens dan Sorgeloos, 1996).
Siklus Hidup
Copepoda jantan pada umumnya lebih kecil dibandingkan copepoda betina. Selama melakukan reproduksi atau kopulasi, organ jantan berhubungan dengan betina dengan adanya peranan antenna, dan meletakkan spermatopora pada bukaan seminal, yang dilekatkan oleh lem semen khusus. Telur-telur umumnya lebih dekat ke bagian kantung telur. Telur-telur ditetaskan sebagai nauplii dan setelah melewati 5-6 fase nauplii (molting), larva akan menjadi copepodit. Setelah copepodit kelima, akan molting lagi menjadi lebih dewasa. Perkembangan ini membutuhkan waktu tidak kurang dari satu minggu hingga satu tahun, dan kehidupan copepoda berlangsung selama enam bulan sampai satu tahun (Lavens dan Sorgeloos, 1996). Dalam satu siklus hidup copepoda memerlukan waktu selama kurang lebih 6-7 hari (Anindiastuti dkk., 2002).
Apabila kondisi tidak memungkinkan untuk kelangsungan hidup, copepoda akan memproduksi cangkang atau telur dormant (istirahat) seperti halnya kista. Hal ini juga menyebabkan tingkat survival berlangsung dengan baik walapun kondisi lingkungan tidak mendukung contohnya pada suhu dingin (Lavens dan Sorgeloos, 1996).
Kualitas nutrisi
Pada umumnya kualitas nutrisi copepoda dapat diterima dengan baik oleh larva-larva ikan laut, dan dipercaya lebih memiliki kualitas nutrisi yang tinggi dibandingkan Artemia. Copepoda memiliki kandungan protein yang tinggi (antara 44 dan 52%) dan struktur asam amino yang baik kecuali metionin dan histidin. Komposisi asam lemak dari copepoda bervariasi tergantung pakan yang diberikan selama kegiatan budidaya (Lavens dan Sorgeloos, 1996).
Copepoda (copepodit dan copepoda dewasa) juga dipercaya memiliki level enzim pencernaan yang lebih tinggi dan berperan penting untuk menunjang kebutuhan nutrisi larva. Padahal pada fase awal dari larva ikan-ikan laut belum memiliki perkembangan pada sistem pencernaan dan yang lebih dipercaya berperan hanyalah cadangan makanan exogenous (pakan dari luar) sebagai cadangan makanan alami untuk organisme. Hal tersebut sesuai dengan pendapat Pederson (1984 dalam Lavens dan Sorgeloos, 1996), yang menguji pencernaan pada awal pemeliharaan larva, dan ditemukan bahwa copepoda lebih cepat tercerna dan cepat melewati usus serta lebih bagus tercerna dibandingkan Artemia.
Kelayakan Hidup Copepoda
Copepoda jenis Tigriopus brevicornis (merupakan jenis copepoda yang hidup di air laut), dapat hidup pada kisaran salinitas yang luas yakni 10-40 ppt. Pada salinitas 10 ppt, proses pertumbuhan dan reproduksi copepoda tersebut terhambat dan mortalitas cukup tinggi pada tahap awal adaptasi. Proses penghambatan tersebut disebabkan adanya proses osmoregulasi copepoda terhadap salinitas baik salinitas rendah maupun tinggi. Pada salinitas 20 dan 30 ppt, memperlihatkan pertumbuhan copepoda yang cukup baik, tetapi salinitas yang paling baik untuk tumbuh dan berkembang adalah 30 ppt (Sutomo, 2003). Menurut Lavens dan Sorgeloos (1996), salinitas yang layak bagi pertumbuhan copepoda dalam kegiatan budidaya adalah 35 ppt, tetapi mampu mentolerir salinitas antara 15 dan 70 ppt. Sejalan dengan pendapat Marcus dan Wilcox (2007), bahwa salinitas yang sesuai untuk perkembangan dan pertumbuhan copepoda 35 ppt.
Copepoda tidak mampu mentolerir perubahan suhu lingkungan yang ekstrim tetapi mampu hidup pada kondisi yang intensif antara 17 dan 30ºC, dan suhu yang optimal untuk tumbuh adalah berkisar antara 16 dan 18ºC. Media kultur yang baik bagi copepoda pada skala laboratorium adalah air laut steril yang bersalinitas 25 ppt dengan suhu ruangan 25ºC dan pH 8,0 (Anindiastuti dkk., 2002). Menurut Lavens dkk (1991), stok kultur copepoda sebaiknya dipelihara pada air laut yang bersalinitas 28 ppt dengan suhu antara 20 dan 21ºC pada ruangan yang terkontrol.
Menurut Uye (1980 dalam Lee dkk., 2005) bahwa masa hidup copepoda (Acartia clausa) yang menggunakan lumpur sebagai sedimen mencapai sekitar 100 sampai 165 hari dengan suhu 5ºC dan tanpa sedimen dengan suhu 20ºC, masa hidupnya hanya sekitar 70 sampai 75 hari.






III. METODE PENELITIAN
Waktu dan Tempat
Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Juni hingga Juli 2008 di Balai Budidaya Air Payau Takalar (BBAPT), Kecamatan Galesong Selatan, Kabupaten Takalar, Sulawesi Selatan.
Hewan Uji
Hewan uji yang digunakan dalam penelitian ini adalah copepoda. Copepoda tersebut diperoleh dari perairan Boddia, Galesong Selatan, Takalar.
Wadah dan Media Penelitian
Wadah yang digunakan adalah stoples kaca bervolume 3 L sebanyak 12 buah yang diisi air laut sebanyak 1 L sesuai salinitas perlakuan. Wadah-wadah tersebut dilengkapi dengan peralatan aerasi.
Sumber air yang digunakan adalah air laut bersalinitas 35 ppt. Stok air laut tersebut diperoleh dari perairan Boddia, Galesong Selatan, Takalar. Untuk mendapatkan salinitas sesuai perlakuan maka dilakukan pengenceran. Pengenceran dilakukan berdasarkan rumus yang digunakan oleh Subandrio (1993 dalam Musdalipa, 2000) sebagai berikut :
(S1 x V1) + (S2 x V2)
Sn = ---------------------------
V1 + V2
Dimana :
Sn : Salinitas yang diinginkan,
S1¬ : Salinitas air yang akan diencerkan,
S2 : Salinitas air pengencer,
V1 : Volume air yang akan diencerkan,
V2 : Volume air pengencer.
Pakan yang digunakan adalah pakan hidup dari jenis Chaetoceros dengan kepadatan 3 x 10¬¬6 cell/mL. Frekuensi pemberian pakan dilakukan dua kali sehari yakni pagi (09.00) dan sore hari (16.00). Pemberian pakan dilakukan dengan cara menambahkan secara langsung kedalam wadah pemeliharaan copepoda.
Cara dan Instrumen Pengumpulan Data
Kultur Chaetoceros dilakukan terlebih dahulu sebagai pakan copepoda. Selanjutnya bibit copepoda ditebar kedalam wadah pemeliharaan sebanyak 100 ekor/wadah. Pemberian pakan pada copepoda dilakukan setiap hari dengan kepadatan yang sama pada setiap wadah pemeliharaan yakni 3 x 106 cell/mL. Selama pemeliharaan berlangsung, dilakukan perhitungan jumlah individu. Perhitungan dilakukan dengan cara menyaring (memadatkan/memanen) air sampel sampai 1 mL dari setiap wadah perlakuan, selanjutnya dihitung dengan menggunakan sedwig rafter cell. Apabila air sampel terlalu padat copepodanya maka dilakukan pengenceran untuk mempermudah perhitungan. Perhitungan dilakukan tiap hari, yakni pada pagi hari sekitar pukul 09.00 WITA setelah pemberian pakan.
Perlakuan dan Rancangan Percobaan
Penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) dengan 4 perlakuan dan setiap perlakuan masing-masing mempunyai 3 ulangan. Dengan demikian, penelitian ini terdiri atas 12 satuan percobaan. Sebagai perlakuan adalah perbedaan salinitas media, yaitu :
A. 26 ppt
B. 29 ppt
C. 32 ppt
D. 35 ppt.
Penempatan wadah penelitian tersebut dilakukan secara acak menurut petunjuk Gazpers (1994). Adapun tata letak unit-unit percobaan setelah pengacakan disajikan pada Gambar 1.







Gambar 1. Tata letak unit - unit percobaan setelah pengacakan
Peubah yang Diamati
Pertumbuhan Populasi
Pertumbuhan populasi dihitung dengan menggunakan rumus Cushing (1968), sebagai berikut:
∆N = Nt – N0

Dimana : ∆N = Pertumbuhan populasi
Nt = Jumlah populasi pada waktu t (Individu/mL)
N0 = Jumlah populasi awal (Individu/mL).
Kualitas Air
Sebagai data penunjang selama penelitian berlangsung, dilakukan pengukuran beberapa parameter kualitas air meliputi: suhu, pH, oksigen terlarut dan amoniak. Suhu diukur dengan menggunakan thermometer, pH dengan pH meter, oksigen terlarut dengan DO meter dan amoniak dengan spektrofotometer. Suhu, pH dan oksigen terlarut diukur setiap hari yakni pada pagi hari (08.00) dan sore hari (16.00), sedangkan amoniak diukur pada awal dan akhir penelitian.
Analisis Data
Data yang diperoleh dianalisis dengan menggunakan sidik ragam. Adapun parameter kualitas air dianalisis secara deskriptif berdasarkan kelayakan hidup copepoda.



IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
Pertumbuhan Populasi
Pertumbuhan populasi copepoda yang dipelihara pada salinitas berbeda disajikan pada (Lampiran 1.), sedangkan rata-rata pertumbuhan populasi copepoda pada setiap perlakuan selama Tujuh (7) hari pemeliharaan dapat dilihat pada Gambar 2.

Gambar 2. Rata-rata Pertumbuhan Populasi Copepoda pada Setiap Perlakuan
Selama Tujuh (7) Hari Pemeliharaan

Berdasarkan Gambar 2 terlihat bahwa pertumbuhan populasi copepoda pada semua perlakuan mencapai puncak populasi pada hari ke-6. Populasi copepoda tertinggi dihasilkan pada perlakuan D (salinitas 35 ppt) mencapai 720 individu dan terendah dihasilkan perlakuan B yakni 389 individu. Dengan demikian, diantara keempat perlakuan salinitas tersebut, salinitas 35 ppt merupakan salinitas yang baik untuk pertumbuhan copepoda. Menurut Lavens dan Sorgeloos (1996), salinitas yang layak bagi pertumbuhan copepoda dalam kegiatan budidaya adalah 35 ppt, walaupun masih mampu mentolerir salinitas antara 15-70 ppt. Selanjutnya Trujillo (1986) mengemukakan bahwa untuk membudidayakan copepoda jenis calanoid, sebaiknya menggunakan air laut bersalinitas 35 ppt. Dalam hal yang berbeda Anindiastuti dkk. (2002) mengemukakan bahwa, media kultur yang digunakan untuk membudidayakan copepoda pada skala laboratorium adalah air laut yang steril bersalinitas 25 ppt, sedangkan stok kultur copepoda sebaiknya dipelihara pada air laut yang bersalinitas 28 ppt (Lavens dkk., 1991).
Hasil analisis sidik ragam (Lampiran 2,3,4,5,6,7, dan 8) memperlihatkan bahwa salinitas media tidak berpengaruh nyata (p>0,05) terhadap pertumbuhan populasi copepoda pada hari ke-1 sampai hari ke-7.
Berdasarkan Gambar 2. juga terlihat bahwa copepoda yang dipelihara pada salinitas 26 ppt pada hari ke-1 sampai ke-5 mengalami pertambahan jumlah individu dan mencapai puncak pada hari ke-6, serta mulai memperlihatkan penurunan jumlah pada hari ke-7. Pada masa pemeliharaan, copepoda akan mengalami masa adaptasi terhadap lingkungan barunya sekitar hari ke-1 sampai ke-3 dan selanjutnya akan berkembang biak (bertelur). Menurut Sutomo (2003), masa adaptasi copepoda terjadi setelah penebaran. Setelah melewati masa adaptasi, copepoda mempunyai kesempatan untuk memperbanyak populasinya yakni dengan jalan bertelur. Ditambahkan oleh Anindiastuti dkk. (2002), bahwa masa inkubasi telur copepoda memerlukan waktu sekitar 24-48 jam. Menurut Lawson dan Grice (1894), masa inkubasi telur hanya sekitar 24 jam pada suhu 18ºC. Pada hari ke-7 pemeliharaan copepoda mulai mengalami penurunan jumlah populasi yang disebabkan persaingan ruang dan nutrisi pakan antar copepoda. Dilihat dari kurva pertumbuhan menunjukkan bahwa copepoda dapat berkembang pada salinitas 26 ppt. Hal ini sejalan dengan pendapat Levinton (1982 dalam Umar, 2002), copepoda di perairan umum dapat hidup pada salinitas antara 26,50 – 35,67 ppt.
Pada perlakuan B (29 ppt) copepoda yang dipelihara pada hari ke-1 sampai ke-5 (masa adaptasi dan bertelur) juga mengalami peningkatan seperti halnya perlakuan A mencapai puncak populasi pada hari ke-6 dan mengalami penurunan pada hari ke-7. Salinitas 29 ppt merupakan salinitas yang sesuai untuk perkembangan copepoda. Menurut Lavens dkk. (1991), copepoda dapat berkembang dengan baik pada air laut yang bersalinitas 28 ppt.
Copepoda pada perlakuan C (32 ppt) mulai hari ke-1 sampai ke-5 mengalami peningkatan jumlah populasi dan mencapai puncak pada hari ke-6 (meningkat secara drastis). Peningkatan jumlah secara drastis merupakan sesuatu yang dibutuhkan di tempat-tempat pembenihan ikan yang memerlukan stok copepoda (sebagai pakan) dalam jumlah yang banyak. Tetapi nampaknya belum bisa mencukupi kebutuhan secara berkesinambungan mengingat waktu yang dibutuhkan untuk memperoleh jumlah yang banyak tersebut sangat lama yakni 6 hari. Sesudah masa adaptasi (hari pertama penebaran) terlihat banyak copepoda yang bertelur dan dua hari kemudian mengalami penurunan. Menurut Sutomo (2003), salinitas 30 ppt merupakan salinitas yang cukup baik untuk pertumbuhan copepoda.
Pada perlakuan D (35 ppt) copepoda yang dipelihara hari ke-1 sampai ke-3 memperlihatkan jumlah populasi copepoda yang stabil. Hari ke-4 langsung meningkat secara drastis dan menurun di hari ke-5, serta meningkat kembali di hari ke-6. Salinitas 35 ppt diduga merupakan salinitas yang optimal bagi pertumbuhan copepoda. Hal ini sesuai pendapat Lavens dan Sorgeloos (1996), salinitas yang optimal bagi pertumbuhan copepoda adalah salinitas 35 ppt. Ditambahkan oleh Trujillo (1986) bahwa untuk mendapatkan jumlah populasi yang besar sebaiknya copepoda dikultur pada air laut yang salinitasnya 35 ppt. Seperti yang terlihat pada Gambar 2 di atas bahwa waktu yang dibutuhkan copepoda untuk memperbanyak populasi sangat singkat.
Penurunan jumlah dan akhirnya naik kembali terjadi akibat perebutan ruang, nutrisi dan pakan yang akhirnya mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan copepoda bahkan dapat mengakibatkan kematian massal. Sutomo (2003) mengemukakan bahwa setelah telur-telur copepoda menetas akhirnya jumlah copepodit yang akan menjadi dewasa semakin bertambah pesat dan peningkatan copepoda yang cukup pesat menyebabkan persaingan ruang, nutrisi dan pakan yang akhirnya mengakibatkan kematian pada hari berikutnya.
Dari keempat perlakuan menunjukkan penurunan populasi copepoda, terjadi pada hari ke-7. Hal ini dipertegas oleh Anindiastuti dkk. (2002) bahwa dalam satu siklus hidup copepoda memerlukan waktu kurang lebih 7 hari, sehingga untuk membudidayakannya diperlukan pengetahuan tersendiri. Salah satu cara untuk mempertahankannya adalah segera memindahkan copepoda ke wadah yang lebih besar bila sudah memperlihatkan peningkatan populasi. Hal ini dilakukan untuk menghindari adanya perebutan ruang yang dapat menghambat pertumbuhan copepoda bahkan dapat mengakibatkan kematian massal yang disebabkan kualitas air yang menurun. Menurut Uye (1980 dalam Lee dkk., 2005), masa hidup copepoda (Acartia sp.) yang menggunakan lumpur sebagai sedimen berkisar 100-165 hari dengan suhu 5ºC, dan yang tanpa sedimen dengan suhu 20ºC, hanya sekitar 70-75 hari.
Kualitas Air
Hasil pengukuran beberapa parameter kualitas air media pemeliharaan copepoda dengan perlakuan salinitas berbeda disajikan pada Tabel 1.
Tabel 1. Hasil pengukuran beberapa parameter kualitas air pada pemeliharaan
copepoda dengan perlakuan salinitas yang berbeda
Parameter Salinitas (ppt) Kisaran Kelayakan Hidup Referensi
26 29 32 35
Suhu (Cº) 23-24 23-24 23-24 23-24 25 Anindiastuti dkk. (2002)
25-28 Valderhaugh dan Kewalramani (1979)
27-27,5 McKinnon dkk., (2003).
Oksigen Terlarut (ppm) 5,47-5,82 5,70-6,09 5,29-5,80 5,24-5,59 5-6 Trujillo (1986)
4-6 Uye (1980 dalam Lee dkk., (2005)
6 Anonim (2008)
>4 Marcus dkk., (2007)
pH 7,29-7,98 7,20-7,98 7,06-8,04 7,02-8,01 8,0 Anindiastuti dkk. (2002)
6,6-7,8 Uye (1980 dalam Lee dkk., 2005)
7,5-8,5 Anonim (2008)
6-8 Umar (2002)
7-8 Marcus dkk., (2007)
Amoniak (ppm) 0-0,033 0-0,034 0-0,034 0-0,034 < 1 Anonim (2008)
< 1 Trujillo (1986)
< 1 Umar (2002)

Suhu media pemeliharaan copepoda pada semua perlakuan berkisar 23-24ºC. Kisaran suhu tersebut masih dalam batas yang layak untuk pemeliharaan copepoda. Lavens dan Sorgeloos (1996) mengemukakan bahwa copepoda tidak mampu mentolerir perubahan suhu lingkungan yang ekstrim tetapi mampu hidup pada kondisi yang intensif antara 17-30ºC. Suhu ruangan yang cocok bagi pertumbuhan copepoda pada kultur skala laboratorium adalah 25ºC (Anindiastuti dkk., 2002). Menurut Valderhaugh dan Kewalramani (1979) suhu yang baik untuk pemeliharaan copepoda berkisar 25-28ºC, dan McKinnon dkk. (2003) berkisar antara 27 dan 27,5ºC. Dalam hal yang berbeda Lavens dkk. (1991) mengemukakan bahwa suhu yang baik untuk copepoda adalah berkisar 20-21ºC pada ruangan yang terkontrol.
Nilai oksigen terlarut yang pada wadah pemeliharaan berkisar 5,24 - 6,09 ppm. Nilai oksigen tersebut masih layak untuk pemeliharaan copepoda. Menurut Uye (1980 dalam Lee dkk., 2005), kandungan oksigen terlarut yang baik bagi copepoda berkisar antara 4-6 ppm. Pendapat yang sama dari Marcus dkk., (2007) bahwa copepoda layak hidup pada air yang kadar oksigennya lebih dari 4 (>4).
Kisaran nilai pH media pemeliharaan copepoda berkisar 7,02-8,04. Kisaran pH tersebut layak untuk kehidupan copepoda. Anindiastuti dkk. (2002) mengemukakan bahwa media yang baik untuk kultur copepoda adalah pH 8,0. Menurut Uye (1980 dalam Lee dkk., 2005), pH yang sesuai untuk copepoda berkisar 6,6-7,8, sedangkan menurut Umar (2002), copepoda bertahan hidup pada pH netral sekitar 6-8. Menurut Marcus dkk., (2007) bahwa copepoda hidup pada air yang nilai pH nya berkisar 7-8. Nilai pH yang optimal bagi copepoda tidak diketahui pasti karena ada pula copepoda yang mampu hidup pada keadaan basa maupun asam. Untuk mempertahankan hidup pada kondisi yang ekstrim tersebut, copepoda membentuk cangkang untuk istirahat sebagaimana pada artemia, tetapi bilamana merujuk pada pH air laut yang umum digunakan untuk membudidayakannya, maka kisaran pHnya adalah 7,5-8,5 (Anonim 2008).
Hasil pengukuran kandungan amoniak pada setiap perlakuan menunjukkan kisaran yang hampir sama, yakni 0-0,034 ppm. Kisaran tersebut masih layak untuk pertumbuhan copepoda. Hal ini sesuai pendapat Trujillo (1986) dan Umar (2002), bahwa kandungan amoniak untuk budidaya copepoda tidak melebihi 1 ppm (<1).


V. SIMPULAN DAN SARAN
Simpulan
Dari hasil penelitian yang diperoleh, dapat disimpulkan bahwa
1. Copepoda mampu hidup pada salinitas 26 sampai 35 ppt.
2. Dari keempat perlakuan, salinitas yang baik untuk mendapatkan jumlah populasi yang tinggi dalam waktu yang singkat adalah salinitas 35 ppt.
Saran
Untuk mempertahankan jumlah copepoda dilakukan pemanenan pada saat terjadi peningkatan jumlah atau dengan cara memindahkan copepoda pada wadah yang lebih besar dari sebelumnya.

Skripsi Darsiani
Budidaya Perairan L221 04 002


DAFTAR PUSTAKA

Alvarez-valderhaug, V. and H. G. Kewalramani. Larva Development of Apocyclops dengizicus Lepeshkin (Copepoda). National Institute of Oceanography Sea Shell, Seven Bungalows, Versova, Bombay, India.

Anindiastuti, Soedarsono dan A. W. Kadek. 2002. Budidaya Fitoplankton dan Zooplankton. Seri Budidaya Laut no: 9. Balai Budidaya Laut, Lampung.

Anonim. 2008. Balai Riset Budidaya Air Payau, Maros, Sulawesi Selatan.

Faidar. 2005. Pengaruh Pemberian Pakan yang Berbeda Terhadap Pertumbuhan dan Sintasan Larva Rajungan (Portunus pelagicus Linnaeus ). Skripsi. Jurusan Perikanan, Fakultas Pertanian, Universitas Muhammadiyah, Makassar.

Hutabarat, S. S.M. Evans. 1984. Pengantar Oseanografi. Universitas Indonesia Press, Jakarta

Lavens, P. and P. Sorgeloos. 1996. Manual on the Production and Use of Live Food For Aquaculture. FAO Fisheries Technical Paper. No. 301 . 295 p.

Lavens, P., P. Sorgeloos, E. Jasper, and F. Ollivier. 1991. Symposium on Fish and Crustacean Larviculture. European Aquaculture Society, Gent University, Belgium.

Lawron, T. J. and G. D. Grice. 1894. The Devepolmental Stages of Paracalanus crassirostris Dahl (Copepoda, Calanoida). Woods Hole Oceanographic Institution, Woods Hole, Massachusetts 02543, USA.

Lee, C.S., P. O’Bryen, N.H. Marcus, 2005. Copepods in Aquaculture. Blackwell Publishing, New York, pp 352. online. http://www.Aquaculture.Ugent.be/ Larvi/Larvious/Presentations/Kotani.pdf. [diakses 22 September 2008].

Marcus N. H. and J. A. Wilcox. 2007. A Guide tO the Meso-Scale Production of the
Copepod Acartia tonsa. Florida State University, Department of Oceanography,
Biological Oceanography. [online]. http://www.unioldenburg.de/zoomorphology/ Biology.html. [diakses 2 Oktober 2008].

McKinnon, A.D., S. Duggan, P.D. Nichols, M.A. Rimmer, G Semmens, and B. Robino. 2003. The Potential of Tropical Paracalanoid Copepods as Live Feeds Aquaculture. Townsville, Queensland 4811, Australia.

Musdalipa. 2000. Pengaruh Konsentrasi Boss 250 EC dan Salinitas Terhadap Mortalitas Trisipan (Cerithidea cingulata). Skripsi. Program Studi Budidaya Perairan, Jurusan Perikanan, Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan, Universitas Hasanuddin, Makassar.

Sutomo. 2003. Pengaruh Salinitas dan Jenis Mikroalga (Chaetoceros gracilis dan Nannochloropsis oculata) Terhadap Perkembangan Nauplii dan Pertumbuhan Kopepoda(Tigriopus brevicornis). [online]. http://digilib.ampl.or.id/detail/detail. pdf. [diakses 19 Januari 2008].

Trujillo-Ortiz, A. 1986. Life Cycle of Marine Calanoid Copepoda Acartia californiensis Trinast Reared Under Laboratory Condition. Centro de Investigaciones de Quintana Roo, Apartando Postal 886, Cancu´n, Quintana Roo 77500, Mexico.

Umar, N. A. 2002. Hubungan Antara Kelimpahan Fitoplankton dan Zooplankton (Copepoda) dengan Larva Kepiting di Perairan Teluk Siddo Kabupaten Barru Sulawesi Selatan. [online]. nurasia005@yahoo.com [diakses 19 Januari 2008].

----------. 2008. Klasifikasi Copepoda Jenis Calanoid. [online]. http://www.uni-oldenburg.de/monoculus. [diakses 19 Januari 2008].

Komentar

  1. vtyipmoetxdksw, vimax, PijrglvSm, [url=http://www.buypenisenlargement.com/]vimax[/url], reguwYjEfc, http://www.buypenisenlargement.com/ vimax, JpktrgLPHw, oyurciur Penis Enlargement, PijllllvSm, [url=http://www.male-sexual-styles.com/]Penis Enlargement[/url], uffffwYjEfc, http://www.male-sexual-styles.com/ Penis Enlargement, fdldgfkjldgfkhg
    bigger penis, PijrglvSm, [url=http://www.buypenisenlargement.com/]bigger penis[/url], uwmnbmYjEfc, http://www.buypenisenlargement.com/ bigger penis, yhXdfhWDwh, Penis Enlargement pills, PiykkjlvSm, [url=http://www.buypenisenlargement.com/]Penis Enlargement pills[/url], uwYlkljEfc, http://www.buypenisenlargement.com/ Penis Enlargement pills, YdQtiQaCa, Penis Enlargement, PijtuklvSm, [url=http://www.buypenisenlargement.com/]Penis Enlargement[/url], uwYj66666jEfc, http://www.buypenisenlargement.com/ Penis Enlargement, XerrrGGhYG, Penis Enlargement, PijlwwwvSm, [url=http://www.male-sexual.com/]Penis Enlargement[/url], uwtttYjEfc, http://www.male-sexual.com/ Penis Enlargement, baeEcVyyyA, Penis Enlargement, PijlvSm, [url=http://penisenlargementkey.com/]Penis Enlargement[/url], uwYjEfc, http://penisenlargementkey.com/ Penis Enlargement, zpMpUeG, Penis Enlargement pills, PijlvSm, [url=http://penisenlargementkey.com/]Penis Enlargement pills[/url], uwYjEfc, http://penisenlargementkey.com/ Penis Enlargement pills, sWgergeyHm,
    vimax, gwwefhhrglvSm, [url=http://vimax3-4.com/]vimax[/url], rfddfuwYjEfc, http://vimax3-4.com/ vimax, mRrfewfLitM.

    BalasHapus

Posting Komentar

Salam; Perfecto Presento by Aquaculturo

Postingan populer dari blog ini

Daftar Istilah-Istilah Perikanan

Faktor Pembatas dan Lingkungan Fisik

Energi dalam Ekologi