Mengenal Lebih Jauh Istilah Fiksasi


Bagi mahasiswa perikanan, khususnya PS Budidaya Perairan, istilah fiksasi bukan lagi menjadi hal asing. Istilah ini lazim terdengar pada saat mahasiswa hendak praktikum histologi dan fisiologi hewan air, atau mereka yang berkecimpung pada pengamatan jaringan dan penyakit pada ikan. Secara umum fiksasi adalah suatu upaya untuk mempertahankan kondisi jaringan agar tetap utuh seperti sedia kala dan tak mengalami kerusakan. Berikut adalah gambaran yang sedikit gamblang tentang fiksasi yang digunakan ilmu histologi.


Jika suatu jaringan dipotong dan ditinggalkan tanpa sesuatu perlakuan, maka segara jaringan itu akan mengalami suatu perubahan yang sangat besar, yaitu akan kering dan mengkerut. Jika jaringan dipertahankan dalam keadaan basah, yaitu meletakkannya dalam larutan garam, maka tidak akan segera mengalami perubahan tetapi bakteria akan berkembang dan menghancurkan jaringan tersebut.
Setiap sel mengandung enzim yang mengubah asam-asam amino menjadi protein penting dalam sel. Setelah sel mati, maka keadaan menjadi bersifat asam. Ensim-ensim yang semula mengubah asam-asam amino menjadi protein, sekarang bekerja dalam arah yang berlawanan, yaitu mengubah protein dalam sel menjadi asam-asam amino yang mudah berdifusi keluar. Keadaan ini disebut otolisis.
Fiksasi adalah suatu usaha manusia untuk mempertahankan elemen-elemen sel atau jaringan agar tetap pada tempatnya dan tidak mengalami perubahan bentuk maupun ukuran. Untuk mencapai tujuan tersebut, maka para ahli sitologi berusaha keras mencari suatu media yang terdiri dari unsur-unsur kimia, yang kemudian dibuat suatu larutan atau dalam bentuk gas. Media ini kemudian disebut fiksatif.
Fiksatif, umumnya mempunyai kemampuan untuk mengubah indeks bias bagian-bagian sel, sehingga bagian-bagian dalam sel tersebut mudah terlihat di bawah mikroskop. Tetapi ini tidaklah berarti banyak, karena tanpa diwarnai bagian-bagian jaringan tidak akan dapat jelas dibedakan satu sama lain. Dan untungnya fiksatif mempunyai kemampuan membuat jaringan mudah menyerap zat warna.
Hasil yang diharapkan dari setiap proses fiksasi adalah bahwa setiap molekul dari jaringan hidup tetap berada pada tempatnya semula, dan tidak ada molekul baru yang timbul. Tetapi, hasil yang demikian ini kelihatannya tidak mungkin terlakasana secara sempurna, karena sebagian besar fiksatif akan memperkeras dan mengerutkan jaringan. Bahkan banyak pula fiksatif yang menimbulkan reaksi sampingan, yaitu reaksi antara fiksatif dengan unsur kimia dalam jaringan, sehingga terbentuk molekul baru yang asing bagi jaringan, karena molekul tersebut tidak pernah ada sewaktu jaringan masih hidup. Molekul-molekul yang timbul secara demikian ini disebut artefak.

Metode Fiksasi
Fiksatif yang akan dipakai tergantung dari tujuan orang membuat sediaan tersebut. Misalnya tujuan utama melihat adanya tetes-tetes lipid dalam jaringan, maka fiksatif yang digunakan adalah osmic-acid.
Setelah ditentukan jenis fiksatif yang akan digunakan maka sebelum bekerja sebaiknya dipersiapkan terlebih dahulu semua alat yang mungkin akan diperlukan, misalnya botol-botol tempat fiksatif, skalpel, pinset dsb. Sebaiknya botol yang digunakan untuk tempat fiksatif adalah yang berwarna putih dan tertutup dari bahan gabus, sebab hal itu umumnya lebih tahan terhadap sebagian besar jenis khemikalia daripada tutup-tutup dari bahan karet. Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan sebelum jaringan diambil dan difikasisi dalam larutan fiksatif, ialah sebagai berikut.

1. usahakan jaringan yang akan difiksasi jangan dijepit dengan pinset, sebab jepitan yang keras dapat merusak jaringan.
2. Ambillah jaringan dengan irisan yang tepat, jangan terlalu besar dan tebal sebab jaringan yang besar dan tebal akan memakan waktu dalam proses fiksasi. Biasanya bagian tepi mudah terfiksasi tetapi bagian tengahnya belum. Dengan demikian sebelum fiksasi mencapai bagian tengah jaringan, kemungkinan besar sel-sel di bagian tengah dari jaringan tersebut sudah mengalami otolisis terlebih dahulu.

Pada perinsipnya, material sel dapat diawetkan bentuknya seperti mendekati bentuk sebelum fiksasi, elemen-elemen nucleus dan sitoplasma juga dapat diawetkan. Hal ini mudah terjadi karena bahan fiksatif dapat menghentikan proses metabolisme dengan cepat, mengawetkan elemen sitologis dan histologis, mengawetkan bentuk yang sebenarnya, mengeraskan atau memberi konsistensi material yang lunak biasanya secara coagulasi, dari protoplasma dan material-material yang dibentuk oleh protoplasma.

Untuk mencegah hal ini, irislah jaringan dengan tebal kira-kira 3-4 mm saja dengan menggunakan skalpel atau silet tajam. Sebaiknya skalpel atau silet dicuci dulu dengan larutan garam fisiologis (misalnya 0,9 % NaCl) sebelum digunakan. Usahakan permukaan rata.

3. Kadang-kadang jaringan yang diambil tadi penuh dengan lumuran darah, atau kalau jaringannya adalah saluran pencernaan maka di dalamnya terdapat makanan atau sisa-sisa makanan. Sebaiknya jaringan-jaringan yang demikian ini dicuci dulu dalam larutan garam fisiologis (misalnya 0,9% NaCl) sebelum dimasukkan kelarutan fiksatif. Perlu diperhatikan bahwa jaringan jangan sekali-kali dicuci dengan air, sebab nanti sel-selnya dapat membengkak.
4. Setelah bersih masukkan segera ke dalam larutan fiksatif untuk mencegah terjadinya otolisis. Usahakan jaringan tidak mengalami perubahan bentuk, misalnya melengkung atau melipat. Banyaknya larutan fiksatif yang digunakan paling sedikit 10 kali volume jaringan.

Bila jaringan yang akan difiksasi lebih dari satu macam, pada hal hanya mempunyai 1 botol fiksatif, maka untuk memudahkan membedakan satu jaringan dengan jaringan lainnya, berilah label pada masing-masing jaringan.
Kebanyakan fiksatif dapat mengadakan penetrasi yang baik pada tempratur kamar. Tetapi ada pula beberapa jenis fiksatif yang memerlukan suhu rendah (-50C) untuk dapat menetrasi dengan baik. Fiksatif-fiksatif yang demikian ini sebelum digunakan dimasukan ke dalam refrigatur. Beberapa macam fiksatif lagi memerlukan suhu tinggi untuk penetrasi yang baik. Untuk fiksatif jenis ini sebelum akan digunakan, dimasukkan saja ke dalam oven (tempratur antara 500 – 560C).
Lamanya fiksasi tergantung dari: macamnya jaringan, misalnya jaringan tendo akan memakan waktu lama dari pada jaringan intestinum. Tebal dan tipisnya jaringan, makin tebal jaringan yang difiksasi makin lama waktu yang diperlukan. Macam fiksatif yang dipergunakan, satu fiksatif dengan fiksatif lainnya tidak selalu sama kecepatan penetrasinya.

Macam-macam Fiksatif
1. Larutan fiksatif sederhana: adalah suatu larutan yang di dalamnya hanya mengandung satu macam saja, misalnya: formalin 10%, mercuric, chloride, dan sebagainya.
2. Larutan fiksatif majemuk atau fiksatif campuran adalah suatu larutan yang di dalamnya mengandung lebih dari satu macam zat. Misalnya: larutan boins, ini mengandung picric acid, formalin dan glacial acetic acid.

Demikianlah penjelasan singkat ini, semoga bermanfaat bagi mahasiswa BDP dan mahasiswa umum. Terimakasih atas segala yang diberikan alam kepada kita, tak terputus kepada tuhan semesta alam, tempat kita bergantung dan meminta kasih.

Disalin dari buku Metode Pewarnaan
Karya Suntoro, UGM Press

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Daftar Istilah-Istilah Perikanan

Faktor Pembatas dan Lingkungan Fisik

Energi dalam Ekologi